Pada tahun 2007, Presiden Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengusulkan sebuah kemitraan banyak negara (multinational partnership) untuk menyelamatkan ekosistem laut dunia yang terkaya – Segitiga Terumbu Karang (the Coral Triangle). Sebagai jawabannya, enam bangsa di kawasan the Coral Triangle — Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Filipina, Kepuluan Solomon, dan Timor-Leste — membentuk the Coral Triangle Initiative (CTI), berkomitmen untuk menjaga kawasan yang perikanannya menurun dan melindungi keanekaragaman hayatinya yang tinggi untuk generasi masa depan.

Inisiatif ini secara resmi diluncurkan pada bulan Mei 2009, mengundang dukungan luas kelompok-kelompok stakeholder, termasuk pemerintah lokal, NGO, pihak swasta (bisnis), institusi akademik, lembaga penyandang dana dunia, dan yang lebih penting-komunitas yang terkena dampak dari sumberdaya perikanan yang menurun. Rare mengambil peran secara khusus pada komponen komunitas dari inisatif ini.

Untuk mengatasi satu dari ancaman- besar di kawasan ini, yaitu penangkapan ikan berlebih, Rare telah meluncurkan kampanye akar rumput (grassroots campaigns) di sepuluh lokasi perikanan penting di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Timor-Leste. Semuanya dirancang untuk mengurangi penangkapan ikan berlebih dengan cara yang sebenarnya memperbaiki kehidupan komunitas pesisir, yang menjadi kunci untuk menjaga dampak jangka panjang.

Di bawah ini adalah peta semua lokasi kampanye dalam program perikanan yang berkelanjutan di Indonesia dan Timor Leste


 
Pendekatan kita: meningkatkan solusi yang berjalan baik untuk komunitas dan konservasi

Memperkuat jejaring Kawasan Lindung Laut di kawasan ini adalah landasan dari strategi Coral Triangle Initiative. Meskipun demikian, keberhasilan bertumpu bukan hanya kepada luasan hektar yang berada dalam perlindungan, tetapi kepada hal yang lebih penting lagi yaitu memperbaiki pengelolaan langsung dari area perlindungan yang sudah ada maupun yang baru.  Hal ini membutuhkan pembangunan kapasitas ditingkat lokal dan insentif untuk memantau, menegakkan, dan mendukung apa yang disepakati oleh para ahli sebagai kunci pengelolaan Daerah Perlindungan Laut (DPL) – zona larang ambil (no-take-zones atau NTZs)*.

NTZs adalah area laut dimana sama sekali tidak diperbolehkan terjadi penangkapan ikan dan– kalau dikelola dengan baik oleh komunitas di sekitarnya – akan menghasilkan cadangan ikan yang lebih besar untuk mendukung kehidupan setempat dan ketahanan pangan untuk jangka panjang; melindungi terumbu karang dimana pariwisata bergantung; dan melindungi daerah pesisir dari dampak negatif perubahan iklim. Ini, tentu saja, mensyaratkan bahwa komunitas memiliki keinginan dan cara untuk mengadopsi praktek pengelolaan yang lebih baik. Lebih dari seperempat dari 4.000 NTZs yang telah didokumentasikan terletak di kawasan Asia Tenggara, tapi banyak yang ada hanya ada dalam laporan semata.

Dalam mengembangkan program ini, Rare dan mitra kerjanya memulai dengan mengidentifikasikan pembelajaran yang berhasil (bright spots) – sedikit tempat dimana dukungan komunitas untuk pemantauan dan penegakkan NTZ cukup kuat; dan ada manfaat bagi manusia dan alam yang dapat ditunjukkan. Kami kemudian membangun rencana seputar mereka ulang perilaku yang paling efektif di sepuluh lokasi ini (dengan tujuan akhirnya adalah percepatan perubahan diseluruh komunitas pesisir di kawasan Asia Tenggara).

 

 

Kemampuan untuk meningkatkan dampak sebanyak tiga kali

Untuk setiap program di Rare, menyeleksi lokasi-lokasi dan mitra selalu dipengaruhi oleh kemampuan untuk meningkatkan dampak jangka panjang. Para mitra untuk program di Asia Tenggara mewakili sebuah jejaring strategis lembaga pemerintah setempat, lembaga non-pemerintah (NGO) dan lembaga nasional yang beberapa diantaranya menunjukkan pengalaman teknis, politis dan pembangunan masyarakat dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan terbaik. Sebagai tambahan, banyak dari lokasi-lokasi yang dipilih ini berada dalam area Daerah Perlindungan Laut  (DPL atau MPA/Marine Protected Area) yang luas dimana mitra-mitra kami mengelola bagian zona larang ambilnya. Mereka diposisikan dengan baik untuk  berkembang dari kesuksesan program ini, dengan kemampuan untuk tiga kali meningkatkan luasan kawasan zona ini dan berada di bawah pengelolaan kawasan laut dan pesisir yang lebih baik di Asia Tenggara.


* Pengelolaan perikanan diterjemahkan secara beragam dimana-mana diseluruh dunia. Untuk penjelasan dan keseragaman sebuah zona-larang-ambil (NTZ) dijelaskan sebagai zona perairan yang ditetapkan secara khusus dimana pengambilan atau pemanenan ikan tidak diperbolehkan.