Sejarah

Rare telah mengembangkan metode untuk memotivasi perubahan perilaku dan dukungan masyarakat bagi konservasi yang sampai saat ini telah teruji dan disempurnakan di lebih dari 50 negara, yaitu: kampanye Pride. Dengan menciptakan hubungan emosional dan kultural yang lebih kuat antara masyarakat dan lingkungan mereka, kampanye-kampanye ini telah digunakan untuk secara dramatis mengurangi ancaman-ancaman yang berkaitan dengan manusia terhadap ekosistem-ekosistem yang penting dari Karibia sampai Amerika Latin dan dari Afrika hingga Asia.

Kekuatan Pride (rasa banga)

Pendekatan Rare terhadap konservasi berakar di Saint Lucia, di mana pada awal 1980an seorang petugas kehutanan muda bernama Paul Butler bertekad menyelamatkan salah satu burung terindah di Karibia – burung Nuri Saint Lucia. Pada waktu itu, hanya tinggal 100 ekor di pulau tersebut, dan burung itu menjadi simbol awal krisis kepunahan global yang makin meningkat.

Ancaman terhadap burung tersebut meliputi kehancuran habitat, penangkapan liar, dan perdagangan ilegal satwa liar, dan sumber penyebab semua itu adalah kurangnya kesadaran atau komitmen penduduk Saint Lucia. Pada waktu itu, menurut Paul, ada sebuah percakapan seperti ini mengenai penjangkauan masyarakat di Departemen Kehutanan: “Kita perlu orang-orang berhenti menghancurkan hutan dan spesies-spesiesnya yang terancam. Kita tidak memiliki uang untuk pendidikan. Kita tidak mempunyai peralatan. Mari kita coba dengan poster. ” Beberapa orang kemudian duduk mengelilingi meja untuk “mendisain” poster tersebut – masing-masing menambahkan sesuatu pada apa yang kemudian menjadi sebuah kolase informasi yang kompleks yang penuh dengan niat baik, akan tetapi berdasarkan pada strategi pemasaran yang buruk. Mereka tidak tahu bagaimana caranya meneliti “khalayak sasaran” mereka. Mereka tidak tahu apakah poster merupakan alat yang cocok untuk mengungkapkan pesan mereka atau apakah ada kerangka kerja untuk memutuskan seperti apa seharusnya pesan tersebut. Mereka tidak punya pola (template) untuk disain dan pasti tidak memiliki akses terhadap alat-alat penjangkauan apapun yang diperlukan untuk menciptakan perubahan yang bermakna dan berjangka panjang.

Dan mereka tidak sendiri. Di seluruh dunia perangkat yang telah terbukti untuk membangun dukungan publik terhadap konservasi pada waktu itu – dan sampai sekarang - masih kurang. Sekitar waktu itu, Paul dan rekan-rekan kerjanya mulai menguji beberapa metode penjangkauan baru yang kreatif. Tanpa mereka sadari saat itu, mereka menciptakan apa yang saat ini merupakan program Rare Pride – yang digunakan oleh para pelaku konservasi lokal dan organisasi-organisasi di seluruh dunia.

Berpindah dari ilmu biologi ke ilmu sosial

“Komite disain poster” di Saint Lucia yang frustrasi mengetahui bahwa untuk melampaui ilmu konservasi dan melibatkan orang biasa dalam perlindungan lingkungan akan memerlukan sedikit inovasi. Jadi mereka mulai mencari contoh-contoh cara merebut perhatian dan mempromosikan pesan-pesan baru yang baik. Cara yang paling efektif kelihatannya berasal dari dunia pemasaran komersial. Kalau seorang perempuan cantik dalam sebuah iklan dapat menjual bir, mengapa seekor burung nuri yang menarik tidak dapat menjual konservasi? Kalau mencetak kaos dengan nama produk dapat membuat merek Anda berjalan berkeliling kota, mengapa tidak mencantumkan merek konservasi bersama minuman ringan, musik, dan tim olahraga? 

Dengan menggunakan gambar yang indah seekor burung Nuri Saint Lucia sebagai simbol kampanye, Paul mulai menguji berbagai kegiatan penjangkauan masyarakat - termasuk baliho, stiker, kotbah, lagu, selipan koran, cap/perangko, topi, kaos, lencana, komik, kartu pos, gelas bir, artikel majalah, gantungan kunci, siaran radio, kegiatan kelas, dan lebih banyak lagi – semua menonjolkan sang Burung Nuri. Paul menghimbau masyarakat di tingkat emosional – menawarkan pada mereka kesempatan untuk menyelamatkan harta setempat yang tidak ada di tempat lain manapun di dunia. Harta yang menjadi milik mereka. Harta yang oleh dunia diperhatikan dan diprioritaskan. Pada intinya, dia memanfaatkan kekuatan rasa bangga.

Dalam beberapa tahun berikutnya, Paul dan rekan-rekan kerjanya di kehutanan menjangkau semua orang dalam masyarakat mereka secara berulang-ulang dan pelan-pelan mulai melihat perubahan. Ketika momentum meningkat, figur politik lokal dan para pemimpin agama mulai memasukkan pesan-pesan kampanye ke dalam pidato dan kotbah mereka. Anak-anak berbicara kepada orangtua mereka mengenai burung itu. Para petugas kehutanan dan orang-orang kota mengenakan kancing kampanye. Maskot raksasa burung tersebut secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah dan festival di seluruh pulau. Oleh karena itu, Burung Nuri dinyatakan sebagai burung nasional, suaka ekologi tercipta, dan hukum diperbaharui dan dilaksanakan. Kampanye tersebut tidak hanya menarik burung Nuri Saint Lucia dari ambang kepunahan, tetapi juga menciptakan harta warisan berupa kebanggaan lingkungan lokal yang masih ada sampai sekarang.

Membuat Pride mendunia

Program Rare Pride yang berlangsung saat ini lahir ketika Paul bergabung menjadi staf Rare dan mulai menduplikasi model Saint Lucia di pulau-pulau yang lain di Karibia. Kampanye baru tersebut sama berhasilnya dalam menciptakan wilayah-wilayah yang dilindungi dan membangun konstituensi lokal yang kuat bagi konservasi. Perhatian dan permintaan untuk model tersebut berkembang. Paul kemudian menulis suatu manual 200 halaman yang meringkas pengalaman 10 tahun ke dalam rencana tindakan satu tahun yang dapat dipergunakan oleh orang lain. Setelah menciptakan rekam jejak di 13 negara di Karibia dari akhir 1980an sampai pertengahan 1990an, apa yang sekarang disebut “Rare Pride” meluas/menyebar ke seluruh Amerika Latin, Pasifik, dan akhirnya Asia dan Afrika.

Pada awalnya, Paul berkunjung dari lokasi ke lokasi memberikan pelatihan dan mengajar para manajer kampanye untuk membantu menduplikasi model tersebut. Akan tetapi, tuntutan yang makin besar akan Pride akhirnya memerlukan dasar dukungan yang lebih dapat dilaksanakan. Pada tahun 2001, Rare meluncurkan pusat pelatihan terpusatnya yang pertama di Universitas Kent di Britania Raya untuk melatih pelaku konservasi yang berbahasa Inggris dari berbagai wilayah. Ini kemudian diikuti oleh program berbahasa Spanyol yang berpusat di Meksiko, pusat Bahasa Indonesia di Institut Pertanian Bogor, dan program bahasa Mandarin di Southwest Forestry University (Universitas Kehutanan Barat Daya) di Cina. Rare sekarang telah berubah dari menyelenggarakan 2-3 kampanye per tahun menjadi 73 kampanye hanya dalam tahun 2010 saja.

Sejak awal, Metodologi Pride telah terus-menerus disempurnakan, tetapi hasilnya masih terus memberikan inspirasi. Para manajer kampanye, yang sekarang dikenal sebagai “Siswa Konservasi Rare” dari seluruh penjuru dunia telah menciptakan wilayah-wilayah yang dilindungi, menyelamatkan spesies, membuat undang-undang, membangun organisasi penjangkauan masyarakat dan mengembangkan konstituensi untuk konservasi yang tetap aktif di daerah-daerah ini walaupun kampanye telah lama berakhir. 

Pendekatan Rare juga telah berubah menjadi meluncurkan kampanye dalam angkatan yang terdiri dari 10-15 yang memiliki tema yang sama untuk meningkatkan pembelajaran dan menghasilkan dampak yang lebih luas.